Airangkasa yang berasal dari atmosfer seperti air hujan dan salju dimana dalam atmosfer banyak sekali terkandung polutan sebagai akibat dari hasil proses produksi maupun timbul secara alami. Kualitas air angkasa tergantung sekali kepada kualitas udara yang dilaluinya sewaktu turun kembali ke permukaan bumi. Sayangnyabeberapa sungai di dunia tercemar akibat pembuangan limbah pabrik. ABSTRAKPencemaran dan kerusakan ekosistem laut akibat ulah manusia itu sendiri sungguh sangat merugikan banyak pihak. Banyak hal yang menyebabkan pencemaran itu terjadi contohnya saja penggunaan Sungaiini sudah kelihatan seperti kolam sampah padahal sebenarnya sungai ini menjadi sumber air untuk pertanian dan sumber air bagi penduduk di sekitarnya. Tetapi sungai ini sangat tercemar oleh manusia dan penuh dengan sampah. Di Disember 2008, Bank Pembangunan Asia meluluskan pinjaman sebanyak $ 50000000 (sekitar Rp 500 bilion) hanya untuk Selainitu ada 7 sungai yang mengalami pencemaran ringan UyT4N. Manusia merupakan predator paling puncak dari jaring-jaring makanan yang bertanggung jawab atas kelangsungan ekosistem, termasuk ekosistem laut. Kebiasaan buruk manusia pada lautan, seperti membuang sampah, dapat berdampak buruk pada kualitas hasil laut yang dikonsumsi. Jaring-jaring makanan terdiri dari rantai makanan yang saling berhubungan. Konsep ini menggambarkan tentang aktivitas makan dan dimakan dalam komunitas ekologis, yang dapat memengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Jika terjadi ketidakseimbangan atau gangguan pada sistem jaring-jaring makanan, dampaknya tak hanya pada lingkungan dan alam saja, tetapi juga pada kesehatan semua makhluk yang terlibat di dalamnya, termasuk manusia. Tahapan Jaring-Jaring Makanan Jaring-Jaring Makanan di Laut dan Bahan Kimia Berbahaya Cara Mengurangi Risiko Keracunan Merkuri Racun Yang Berasal Dari Sungai Tercemar Mengendap Paling Banyak Pada Tahapan Jaring-Jaring Makanan Secara sederhana, fase jaring-jaring makanan yang bermula dari tumbuhan dapat diumpamakan seperti berikut ini Tahap pertama, tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk berfotosintesis, lalu membentuk biji, daun, dan buah. Tahap kedua, tumbuhan, misalnya rumput, dikonsumsi oleh sapi sebagai herbivora atau konsumen tingkat 1. Tahap ketiga, sapi dikonsumsi oleh manusia sebagai konsumen tingkat 2 atau karnivora atau konsumen puncak. Tahap keempat, jasad manusia yang mati diuraikan oleh cacing dan bakteri lain yang kemudian dimanfaatkan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Jaring-jaring makanan ini juga berlaku di laut. Tahap pertama diawali dengan fotosintesis plankton, alga, dan bakteri sebagai produsen primer. Selanjutnya, produsen primer ini dimakan oleh ikan dan kemudian ikan tersebut dikonsumsi manusia. Namun, persoalan baru muncul saat perairan tercemar, karena dapat membuat ikan terkontaminasi limbah, baik di laut maupun sungai. Jika dikonsumsi manusia, tentu ikan yang terkontaminasi limbah ini akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Jaring-Jaring Makanan di Laut dan Bahan Kimia Berbahaya Dalam konsep jaring-jaring makanan, racun dalam ikan yang terkontaminasi limbah akan terakumulasi dan dapat masuk ke tubuh manusia saat dikonsumsi. Padahal, konsumsi ikan dan hewan laut sangat diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan protein, vitamin, mineral, dan lemak baik seperti omega-3. Pencemar umumnya adalah bahan kimia tidak larut, yang jika dilepaskan ke alam dapat terakumulasi dalam jaring-jaring makanan. Jika terakumulasi, konsumsi bahan makanan yang berasal dari alam ini dapat mengganggu kesehatan seluruh makhluk hidup, termasuk manusia. Bahan pencemar ini biasanya akan menetap di dalam tubuh hewan-hewan laut, hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia. Salah satu contohnya adalah merkuri. Sebagian besar merkuri pada ikan dapat ditoleransi oleh tubuh manusia. Namun, jika kadar merkuri pada hewan laut sudah terlalu tinggi, tubuh tidak bisa menoleransinya lagi. Anak-anak dan ibu hamil merupakan golongan yang sangat rentan terkena efek negatif dari merkuri. Hal ini karena merkuri dalam kadar tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada otak dan sistem saraf janin. Cara Mengurangi Risiko Keracunan Merkuri Jika tidak tahu pasti apakah ikan atau hewan laut yang dikonsumsi benar-benar bebas merkuri dan bahan pencemar lain, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi risiko keracunan merkuri, di antaranya Batasi konsumsi hewan laut, terutama ketika Anda sedang hamil. Hindari memancing ikan yang akan Anda konsumsi di surface area yang berisiko tinggi terpapar merkuri. Pastikan ikan yang Anda konsumsi diambil dari lingkungan yang bersih dan jauh dari tempat pembuangan limbah. Segera cuci tangan dengan sabun setelah melakukan aktivitas yang berisiko tinggi terpapar merkuri. Rutinlah melakukan tes darah untuk mengetahui kadar merkuri di dalam tubuh, terutama sebelum hamil. Selain merkuri, Anda juga harus mewaspadai kontaminasi pestisida dalam jaring-jaring makanan, teruatama ekosistem air tawar di sekitar lahan pertanian. Ada pula bahan pencemar lain yang banyak terdapat di perairan, yaitu bisphenol A BPA yang merupakan salah satu bahan dasar pembuat plastik. Limbah plastik yang menuju ke laut akan terpecah menjadi serpihan yang lebih kecil mikroplastik. Mikroplastik ini dapat terserap dan terakumulasi di dalam tubuh hewan laut. Saat hewan laut dikonsumsi manusia, partikel mikroplastik ini dapat masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi kinerja beberapa organ, seperti hati, ginjal, dan usus. Jadi, sampah plastik yang di buang ke laut sangat berdampak buruk pada jaring-jaring makanan, dan akhirnya akan membahayakan diri Anda sendiri sebagai konsumen puncak. Pastikan Anda lebih bijak dalam mengelola alam, agar manfaatnya dapat dirasakan hingga ke generasi yang akan datang. Jika Anda mengalami gejala keracunan merkuri, seperti sulit mendengar dan berbicara, otot melemah, sulit berjalan, bahkan sulit melihat, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pencemaran sungai seakan sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia dan kondisi ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal. Padahal, air sungai merupakan salah satu sumber air utama bagi masyarakat Indonesia. Lalu, apa saja yang bisa menjadi penyebab tercemarnya air sungai? Yuk simak ulasannya! Penyebab Air Sungai Tercemar di Indonesia Limbah dan Sampah Permasalahan yang paling sering dialami oleh sungai-sungai yang ada di Indonesia adalah limbah dan sampah. Banyak limbah pabrik di Daerah Aliran Sungai DAS yang dibuang begitu saja di sungai tanpa melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah IPAL. Akibatnya, banyak zat beracun yang turut terbuang ke dalam sungai. Selain limbah, sampah juga tak kalah populernya sebagai penyebab tercemarnya sungai di Indonesia. Sampah ini berasal dari para warga di sekitar bantaran atau TPA yang berada di bibir sungai. Akibatnya, sampah ini ikut terbawa air sungai dan ada pula yang mengendap di dasar sungai. Penambangan Selain limbah dan sampah, aktivitas penambangan juga sering menjadi sebab pencemaran pada sungai. Penambangan yang dilakukan secara terus-menerus akan menimbulkan sedimentasi parah di dasar sungai. Akibatnya, sungai menjadi dangkal dan airnya pun mengering. Bisa dikatakan penyebab utama dari rusaknya sungai di Indonesia adalah aktivitas manusia yang mengeksploitasi sungai tanpa batas. Mulai dari penambangan pasir hingga limbah pabrik yang penuh racun. Padahal, air sungai juga masih dimanfaatkan oleh warga untuk keperluan sehari-hari.

racun yang berasal dari sungai tercemar mengendap paling banyak pada